Bos,
Ngomongin soal “Lem”, biar gampang kita mengenali paling sedikit ada 2 jenis “lem”
Yg sekedar nempel seperti POST-IT atau benar-benar Lem yang merekatkan antara 2 obyek, misalnya kertas dgn kertas, kulit dengan bahan lain, dan sterusnya.
Advertising itu diibaratkan seperti “Lem” alias perekat. “Lem” agar sekian banyak audience berubah pertimbangan menjadi potential pembeli produk kita. Benar, masih potential pembeli, belum pembeli lho!
Nah, gimana caranya agar Advertising menjadi “lem” perekat, bukan “Post-It”?
Sebodo teing deh banyak konsultan ngomong segala jenis teori. Hehehe…kadang bukannya makin simple, malah makin ruwet. Kadang…begitu sederhana, tapi dibuat susah. Kadang itu-itu juga teorinya, tapi dibungkus lagi jadi indah.
Advertising bisa menjadi senjata awareness dan bahkan mengarahkan ke proses pembelian adalah bila:
–> “Paling relevan” dengan kebutuhan, keinginan, ekspektasi, baik yang tercetus maupun yang belum disadari.
–> “Paling dekat” dengan dimana konsumen berada.
Dengan kata lain, ini adalah teori dasar marketing mix (offering/penawaran dan approach). Itu aja kok! Gitu aja kok dibuat repot.
__________________________________________________________
Ada yang bilang, story-nya haruslah berdasarkan hasil riset ini itu. Riset anu kurang bagus. Story line yang me-too bisa ga pas.
Betul. Ujung-ujungnya apa? Ya supaya setting ataupun story dalam iklan tersebut “paling relevan” dengan konsumen.
Ada yang bilang, message nya haruslah single, jangan double?
Betul sekali. Kenapa ”single”? Ya maksudnya yang “paling relevan”. Kenapa? Karena waktu komunikasi advertising tuh pendek, waktu mendengarkan si audience juga pendek dan banyak distorsi.
Ada yang bilang, mesti intonasi ini atau gaya bahasa begini begitu. Kenapa?
Iya betul, karena intonasi atau gaya bahasa tersebut yg paling “dekat” atau paling “relevan” dengan target konsumen. Mudah diingat karena relevan atau bagian dari kehidupan target konsumen.
Ada yg pusink, mo pakai talent siapa. Lah, pusing amat. Talent mana yg “paling relevan/dekat” yang mampu merepresentasikan kebutuhan, keinginan, ekpektasi target konsumen, atau pun yg bisa mempengaruhi target konsumen untuk membeli karena dianggap merepresentasikan mereka di atas.
Ada yg bilang, media komunikasi ini ga se-efektif yg anu.
Kenapa begitu? Ya, karena media komunikasi itu yang paling sering dipake, paling dekat menjangkau konsumen, paling bisa fit dengan message yg kita ingin sampaikan, paling bisa membuat konsumen berinteraksi dengan kita. Ya, betul. “Paling dekat”
Ada yang bilang, kita mesti pake komunitas. Buat offering dan buat approaching.
Betul, kenapa? Ya karena “paling relevan dan “paling dekat”. Dengan kita membidik komunitas, sebetulnya kita sudah melakukan offering dan approaching kepada satu segmen yg diharapkan identikal satu sama lain dari sisi kebutuhan, keinginan, ekspektasi, dsbnya.
Aduh…mau bilang apa lagi sih?
Udah ah, yang penting “paling relevan” dan “paling dekat”.
Masalahnya apa? Ya tadi itu: Lem atau Post-It, efek advertising Anda. Itu doang kok.
MST
Belum Ada Tanggapan
Belum ada komentar.
