
Permisi nih MIX, sy tulis ulang di blog sy ini…
Yup, tahun 2009 adalah era pertarungan di 3 new battlefield: community, alternative channel, alternative communication media.
Berita dari dunia telkom, beberapa waktu lalu, di milis marketing-club (http://finance.groups.yahoo.com/group/marketing-club), ada posting dari mas Yusuf Martak tentang sebuah media advertisement baru lewat media handphone. Namanya adalah Utones. Aplikasi advertisement ini akan menampilkan gambar di layar handphone kita pada saat menerima panggilan dan menerima sms, ditambah layanan WAP untuk m-commercial. Subscriber aplikasi gratis ini berhak menerima iklan yang diinginkannya sesuai waktu yang diinginkannya dan akan mendapatkan kompensasi berupa point yang bisa ditukarkan dalam bentuk pulsa handphone ataupun mobile content seperti Java games, wallpaper, ringtone, dsbnya. Brand besar sudah menyatakan ketertarikannya akan Utones ini. Tanpa bermaksud melebihkan, Utones ini juga di-distribusikan dengan cara MLM (2 layers saja – minimal 50 agen). Bila sukses, jelas Utones ini akan menambah jajaran alternatif media. Welcome, Utones! Semoga sukses.
Dari dunia maya sendiri, walaupun masih muda (lahir 4 Februari 2004), Facebook semakin berkembang menjadi alternatif beriklan baru perlu dicermati juga. Sebagai alternatif iklan, Facebook sebenarnya lebih mengena ya karena memang karakteristiknya yang sangat personal/self-expression. Kita bebas memilih bergabung dengan komunitas tertentu, ambil aplikasi tertentu, bebas komentarin orang, bebas adding, bisa chatting, dan bahkan bisa beriklan. Memang kebanyakan yang melakukannya masih komunitas, personal brand (aktor/artis/penyanyi), institusi, ataupun restoran. Di antara semua pengiklan yang saya tahu, yang paling membuat saya takjub adalah Lentera Jiwa yang sesungguhnya merupakan lagu dari Nugie. Lagu Nugie ini dipasarkan dengan cara baru bagi dunia per-lagu-an di Indonesia. Liriknya yang di-ilhami oleh semangat “mencari jati diri” di-buzz-ing dengan menggunakan situs maya (www.lenterajiwa.com), show Nugie, dan radio-radio dengan diskusi dan sharing-sharing seputar “mencari jati diri” tersebut.
Dengan semakin exhausted channel konvensional dan gencarnya persaingan, sedekat mungkin brand ingin berada di jangkauan environment sekitar konsumen. Akhirnya, channel-channel “baru” bermunculan. Bertahun-tahun, kita mendengar brand-brand rokok yang menggunakan sarana layar tancap di masa lalu untuk berjualan. Kita juga sudah mendengar banyak channel-channel khusus seperti penjara dan lokalisasi seks komersial sebagai salah satu channel. Atau channel seperti koperasi karyawan, kantin sekolah, warung lapangan olahraga, warteg, pedagang asongan, warung-warung jamu/kopi, toko handphone, dsbnya. Semua channel itu sekarang mulai digarap serius. Tahun 2009, dengan berkembangnya banyak channel seperti SPA dan fitness center, tempat-tempat kursus, komunitas, restoran dan café/bar, marketer/sales team harus memulai memikirkan peng-cover-an dan penggarapan channel-channel tersebut.
Rasanya tidak perlu banyak berbicara mengenai komunitas. Djarum Black dengan agresifnya menggarap komunitas kreatif (Art lovers, modifikator otomotif, designer, dsbnya). Kecap Bango dengan Festival Bango-nya. Beberapa brand otomotif dengan komunitas penggunanya. Masih banyak lagi brand-brand lainnya.
Tahun 2009 adalah era pertarungan di 3 new battlefield tersebut.
Brand Owner mulai menggalang loyalitas dalam komunitas dengan cara kreatif tanpa keliatan beriklan, kalaupun tidak bisa meng-akuisisi komunitas. Brand Owner berusaha create awareness dan usage desire lewat alternatif media. Brand Owner/Sales team berusaha meng-cover dan merebut shelf share di alternatif channel.
Di sinilah, diperlukannya penyegaran penerapan IMC (Integrated Marketing Communication).
Sudah bukan cerita baru bahwa prinsip IMC ini tidak mampu diterapkan oleh setiap brand, tidak juga setiap tahun dan setiap saat. Kendalanya banyak, mulai dari budget, agresifitas pesaing, prioritas, resources, dan sebagainya. Oleh karena itu, prinsip “integrated” yang menitikberatkan penggarapan di setiap contact point dengan konsumen, sama sekali tidak bisa dijalankan. Mungkin hanya di beberapa contact point saja.
Apakah memang IMC hanya didefinisikan pengintegrasian semua kegiatan di titik contact dengan konsumen? Bahkan, harus sebanyak mungkin titik contact?
Saya menambahkan 2 unsur yaitu “Engagement” (guna mengikat konsumen selamanya) dan “Encouragement” (guna mendorong konsumen pro brand kita) ke dalam IMC agar menjadi lebih segar. Bagi saya, “integrated” yang dimaksud ini bukan hanya berarti semua program kita dituntut harus “link/terintegrasi” satu sama lain. Penitikberatan lebih kepada pengintegrasian 2 unsur tadi di atas: Engagement dan Encouragement yang sangat sesuai untuk menghadapi tahun 2009.
Strategi “Engagement” adalah strategi dimana kita berusaha menjadikan konsumen kita loyal terhadap brand kita. Bukan hanya membeli saja. Sedangkan, strategi “Encouragement” adalah strategi dimana kita berusaha menjadikan konsumen kita menjadi brand ambassador (self-advertising) dan brand advisor/defender. Memang begitu meningkat, seringkali kita liat para brand ambassador/defender ini akan mengelompok dalam komunitas formal. Dengan semakin agresifnya kompetitor, kenaikan marketing costs, bermunculannya channel-channel dan media baru, alangkah baiknya bila semakin bertambah jumlah konsumen kita yang sudah bisa membela brand kita (bukan hanya setia) bahkan merekomendasikan kepada pengguna baru.
Contoh penerapan ini di antaranya dilakukan oleh Kecap Bango, Djarum Black, ataupun Nugie lewat Lentera Jiwa-nya. Masih banyak brand lain sebetulnya.
Selain ATL dan BTL konvensional, Festival Kuliner Bango adalah strategi yang dilakukan agar konsumen loyal kepada brand Bango. Bukan hanya membeli sesaat setelah melihat iklan tapi seterusnya (ter-engage seperti pasangan kita). Warung-warung Bango dan komunitas “Bango Mania” adalah strategi Encouragement, lepas dari independent atau tidaknya dengan prinsipal. Untuk Djarum black, penggarapan lewat komunitas diharapkan bukan hanya mengikat (engage) tetapi juga mendorong (encourage) konsumen terhadap brand Djarum Black. Untuk Lentera Jiwa, situs-situs dan acara-acara live di radio serta TV berbasis “pencarian dan perwujudan jati diri/lentera jiwa” adalah strategi yang tepat untuk meng-courage konsumen menjadi brand ambassador dan brand defender dalam jangka panjang. Coba deh sekali-kali mengkritik tentang Lentera Jiwa, Anda akan berhadapan dengan sejumlah penentang!
Dunia pemasaran 2009 akan semakin panas! Jangan salah kaprah ya. Walaupun budget terbatas, agresifitas kompetitor tinggi, atau sekalipun brand Anda masih baru, ingat saja : IMC bukan berarti harus di semua titik contact dengan konsumen. Tetapi apakah strategi IMC Anda ada unsur “Engagement” dan “Encouragement”nya atau tidak. Sekalipun, di semua titik contact, tanpa 2 unsur di atas, percuma saja. Buang-buang waktu dan tenaga.
conceptor IES (Integrated Engagement and Encouragement Strategy)
Belum Ada Tanggapan
Belum ada komentar.
