Lagi males nulis nih bpk/ibu dan teman2…
Dalam edisi “Nostalgia” ini, sy pengen belajar juga dari teman2 dan bpk/ibu…
Tujuannya bukanlah menjelekkan ataupun membantu brand ybs. Sama sekali tidak. Clear, sy hanya ingin belajar dan kebetulan saja bila brand ybs adalah brand legendaris yg menjadi contoh sy.
Bila Anda menjadi Marketing Manager/Director ataupun Brand Manager merek2 bersejarah, apa yg Anda akan lakukan?
misalnya saja: wafer SUPERMAN
& Komentar



Superman juga salah satu wafer coklat favorit saya sewaktu smp sebelum munculnya beng-beng.
kalau saya jadi brand managernya, yg pertama saya lakukan adalah melakukan ‘pergeseran’ brand. brand diganti pelan2 ke merk lain karena merk ’superman’ sudah menjadi hak cipta dc comics sehingga cepat atau lambat merk superman harus diganti.
sebelum dikejar2 orang dc comics, saya akan berusaha memanfaatkan ketenaran superman untuk ber geser ke merk lain misalkan ’superhero’ – superman. Superhero nya besar superman nya kecil, dengan logo tetap superman.
fase berikutnya adalah menambahkan varian rasa dengan sub brand superhero yg lain dengan bentuk ‘cover version’ dari superhero top supaya tidak kena tuntutan tanpa namanya. misalkan superhero vanilla gambarnya mirip wonder woman …
fase terakhir superman nya diganti gambar superman ‘cover version’ tanpa tulisan superman …. semoga pergeseran ini bisa menyelamatkan dari tuntutan tapi masih bisa dapat kesan superhero yg asli
eh, satu lagi ‘roma’ nya tak copot, foto 3 orang itu di lepas… superhero cuma buat yg merasa super … orang biasa beli wafer yg lain saja ….
Hmm.. bang Handoko sedang bikin ujian tertulis neh…
Ehm..Ehm
Kalo saya jadi BM Superman, I wil relaunch it! Yap Only Relaunch it. Stay Original.. Karena yang bikin kita suka dengan wafer Coklat Superman adalah Experience nya bukan? Since udah banyak wafer coklat dimana-mana tapi yang ini wafer coklat kita waktu kecil dulu.
So i will stay original…
Jika orang bilang anak-anak adalah pendorong pembelian, maka jangan sangsikan untuk yang satu ini, bapak, ibu, om dan tante nya yang akan menjadi influencernya. Anak-anak selalu ingin seperti orang dewasa bukan? so wafer ini bisa jadi part of their journey..
Like Harley.. Inovasi bukan hal yang akan ditonjolkan, tapi experience yang akan drive the consumer…
hmmm…
gimana bang handoko? jangan diketawain ya hehehehhe
kayaknya yang dimaksud bos MST, bila yang diomongin adalah wafer Superman-nya Roma adalah brand legendaris yang hendak dibangkitkan kembali.
kalau dikatakan market leader kayaknya nggak ya…setahu saya market leader masih dipegang oleh Tango, si wafer enak.
soal Superman tidak terlalu banyak yang berubah. dijual tidak bijian tapi per pack ya kayaknya. desain kemasan ada perubahan sedikit, sayangnya perubahan itu sama sekali tidak terlalu progesif. mestinya bisa di-refresh sedikit mengikuti trend desain kemasan yang saat ini familiar buat target market mereka yaitu anak-anak dan mungkin remaja. cuma jangan terlalu signifikan saja perubahannya. khawatirnya akan terjadi loss identity (bener gak nih nulisnya? he…he..)
Chiki juga legendaris.. bahkan menjadi generik. most friends and neighbors akan bilang bahwa saya kerja di pabrik Chiki meski nyatanya bukan. yang benar adalah saya kerja di snack manufacturing. he…he…cuma sayangnya si Chiki saat ini dalam kondisi yang flat-flat saja. ada sih di modern market, cuma brand maintenance- nya kurang greget. product tidak di-develop dengan baik karena trend kesukaan anak thdp snack mudah sekali berubah (seasonal dan progresif inovasinya). .
ada juga Permen Pagoda Pastilles yang hingga kini masih ada. beberapa minggu yang lalu sempat beli di apotik dan surprise sekali harganya cuma rp. 1500 per pack. cukup murah dengan kemasan bundar which is made of metal. sayangnya dan kayaknya market size kategory candy di line ini sepertinya kini tak terlalu gedhe.
to reactivate legendary brands menurut saya sebaiknya difikirkan tentang :
1. refreshment packaging design
2. initiate product development mengikuti trend yang populer di tengah konsumen/product variants terbaru
3. tetap tidak menghilangkan existing identity
4. komunikasi marketing yang tepat (misal. depict historical story of a certain legendary brand up to now…disukai oleh kakek waktu kecil, bapak waktu kecil, gue waktu kecil, dan sekarang anak gue pun suka juga).
piye mas MST? kalau mau dijlentrehkan bisa panjang nih urusannya. ha…ha…
Setuju dg Ken, poin2 yg ditulis sdh aku lakukan utk produk Pagoda Pastilles. Sejak pegang Pagoda Pastilles hampir 2 tahun lalu, aku lakukan survei kenapa si pastilles ini makin turun salesnya. Ternyata karena sudah lama sekali tidak ada promo dan tidak ada inovasi. Hal ini diperparah dengan kinerja distributor. Kami menggunakan multidist, lokal distributor di tiap area. Dan si distributor ini kebanyakan adalah trader, mereka cuma lempar barang dan tidak punya tim spreading Alasannya? Biasa, apalagi kalo bukan cost ratio.
Ok, kembali ke produk. Karena lama tidak ada promo (yg paling terkenal waktu pake pasangan Widyawati-Sophan Sophian : Pagoda Pastilles Lambang Pergaulan Anda dan waktu pake Nike Ardilla : Pastilles Pasti Pagoda), lama kelamaan hanya orang2 tua yg masih kenal Pagoda Pastilles, anak2 SMA sdh kagak tau apa itu Pagoda. Aku pikir percuma raih ke anak muda kalo kemasan masih seperti itu, mending bikin inovasi dari desain kemasan maupun produknya. Maka sekarang sdg proses ke perubahan desain kemasan, bentuk kemasan, dan varian produk, dengan tidak meninggalkan identitas Pagoda yg sudah kuat, baik dari gambar pagodanya maupun dari brand-nya. Tapi bagaimana dg yg sekarang, masa mau tetap dibiarin aja? Ntar malah orang makin lupa. Utk hal itu aku lakukan consumer promo dg budget yg terbatas (maklum sales turun terus) dg hadiah yg bisa diterima oleh anak muda spt PS2, iPod, selain hadiah yg bisa juga diterima orang tua spt TV dan sepeda motor. Lumayan meningkatkan penjualan. Jadi, aku setuju sekali dg poin2 yg ditulis oleh Ken.
Ada yang ingat Afitson? Balsam yg dulu juga sempat besar? Sempat pake lagunya Benyamin S : badminton di mana-mana, yg diplesetkan menjadi Afitson di mana-mana? Produk ini aku yg pegang juga. Permasalahannya agak beda. Di Jawa produk ini bisa dikatakan sudah mati, tapi di Sumatra, terutama Sumut, Sumsel dan Lampung brand ini masih sangat kuat. Berani deh kalo lawan Balpirik. Brand-nya sudah menjadi nama generik, coba tanya Ronald. Orang akan bilang “beli Afitson”, meski yg dimaksud Geliga atau balsam yg lain. Utk produk ini aku lakukan hal yang sama, tapi tidak berani terlalu gencar beriklan di Sumatra, karena di sana orang masih sangat fanatik. Sebagai contoh, gambar orang dipijit di kemasan Afitson sebetulnya sudah berubah, dari gambar tidur telungkup menjadi berdiri (tapi tetap yg kelihatan punggungnya, bukan bagian depan he..he…). Sayangnya hal itu tidak disosialisasikan ke konsumen lewat iklan, brosur, dsb. Akibatnya, banyak konsumen yg menolak waktu disodori kemasan baru tersebut. Palsu, kata mereka.
Menurutku, sangat berat utk relaunch brand legendaris yg sdh tidak menjadi market leader. Kita harus lakukan inovasi tanpa meninggalkan identitas yg sudah sangat dikenal konsumen, karena dari segi biaya akan tetap lebih murah daripada launching brand yg benar2 baru.
Bos MST, ini lagi “ISENG!!” di blog yah..
Yang akan saya lakukan adalah buat 2 produk :
1. Produk Superman tetap seperti semula akan tetapi distribusinya diperbaiki. hal ini ditujukan pada customer kita yang ingin nostalgia tehadap brand tersebut. baik dari segi taste, packaging dan yang lainnya.
2. Buat Brand baru. dimana brand ini disesuaikan dengan kondisi market sekarang. dari segi taste dan packagingnya disesuaikan. tentunya promosinya pun berbeda. karena kalo hanya mempertahankan brand lama maka konsumennya lama2 tua juga dan semakin jarang mengkonsumsi brand tsb (kan alasan mereka hanya nostalgia)