Generasi Masa Depan (5)

Masih mengenai generasi masa depan…

 

Ada sebuah film yang buat saya amat sangat menggambarkan kondisi generasi masa depan, walaupun memang setting-nya adalah masyarakat Jepang.

 

ENGINE, The best summer drama di Jepang yang diperani oleh raja drama Jepang, Kimura Takuya, ini bercerita tentang seorang racer hebat yang gagal dalam kompetisi F1 dan kembali ke Jepang ke penampungan anak-anak yang dikelola ayah angkatnya. Di penampungan tersebut, tanpa bisa dihindari, ia terlibat dalam permasalahan dari 12 anak-anak yang kira-kira berumur 12 hingga 18 tahun. Dengan gayanya yang cuek dan tidak suka anak-anak, ia justru berhasil membantu anak-anak tersebut mandiri dalam menyelesaikan masalah mereka dibandingkan 2 orang guru resmi yang sangat kaku dan ortodoks.

 

Anak-anak yang senang berontak, tidak mau dan tidak gampang diatur, keras kepala, dan tidak percaya siapapun kecuali dirinya sendiri. Anak-anak ini bisa juga menjadi anak-anak sombong, pengacau, agresif-impulsif yang senang menyiksa sesama; anak-anak pembual yang suka berbohong; ataupun anak-anak yang sibuk dengan kegiatan komunitasnya, olaraga ataupun bermain game dan internet. Anak-anak ini korban kesibukan ayah ibunya yang tanpa sadar menjadi cold-hearted, kasar, pemarah, dan tidak punya waktu untuk memperhatikan dan mendengarkan anaknya.

 

Anak-anak dengan kepahitan yang tidak percaya pada cinta lawan jenis ataupun perkawinan. Anak-anak ini korban perceraian, korban penyelewangan dalam rumah tangga, dan tindak kekerasan dalam rumah tangga. Di sisi lain, justru bisa juga menjadi anak-anak yang haus kasih sayang, mudah terjatuh dalam pergaulan seks bebas, obat-obatan, dsbnya.

 

Anak-anak yang seumur hidupnya menjadi korban bully, minder, anti sosial, pendendam, seumur hidup mati-matian mencari jati diri dan membuktikan eksistensi dirinya. Anak-anak korban MBA alias married by accident, hamil muda, ataupun hamil yang tidak diinginkan. Bisa juga anak-anak korban perbuatan orang tuanya yang dipenjara karena melanggar hukum.

 

Anak-anak ambisius, depresi, dan stress seumur hidup mencoba menyenangkan hati orang tua dan orang-orang yang mengharapkan dirinya. Anak-anak ini berasal dari keluarga miskin, sederhana/menengah, ataupun kaya yang begitu memaksakan kehendaknya terhadap masa depan anak-anaknya. Ditambah lagi, persepsi dan perlakukan sekolah dan para guru yang sangat diskriminasi terhadap mereka.

 

Anak-anak inilah yang kelak akan menjadi target market kita, marketer.

Sama seperti pesan moral dalam drama ini, kita tidak akan bisa memenangkan hati para generasi masa depan ini bila “TIDAK BISA MENJADI SEPERTI MEREKA”, bukan sekedar memahami mereka seperti si guru wanita ataupun memaksakan apa yang terbaik menurut kacamata kita seperti si guru pria.

& Komentar

  1. salam kenal…
    menurut pendapat saya tergantung, bisa diliat dari 2 sisi..
    a. apabila kita mempunyai idealisme yang besar akan perkembangan kondisi, tentu saja kita tidak bisa karena sama saja dengan kita mendukung untuk merusak generasi tersebut. dalam artian begini, menurut saya sama saja dengan kita memfasilitasi mereka untuk menjadi orang yang seperti itu, apabila hal tersebut bisa menjadi trend maka psikologi anak2 bangsa akan semakin rusak.

    b.point of view yang lain dari segi pure marketer. hal tersebut tentu saja kesempatan atau peluang untuk marketer dan mereka adalah sasaran untuk marketer selanjutnya. marketer sebaiknya menyediakan produk yang mewakilkan eksistensi mereka.

    begitu pendapat saya, tolong kepada bapa suhu untuk memberi feedback pandangan saya.

    bayuseto21.wordpress.com

  2. Thx ya buat komennya Bos Bayu.

    Tul tul…kita ga bisa stop pembentukan karakter ini ya, as marketer dan juga as people. Yang bisa dilakukan adalah mncoba mendalami n memahami. Kalo Indo nya ga ada ni kata yg tepat. Peribahasa ingris bilang: “put your foot into their shoes”. Bravo.


Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal

Tinggalkan komentar

You must be logged in to post a comment.