Kembali mengenai generasi masa depan…
Di masa depan, kompetisi disadari semakin berat dan secara umum dunia akan terbagi menjadi generasi “IDAMAN atau PERFECT” dan generasi “CACAT atau TIDAK BERPRESTASI”. Dan generasi kedua tersebut jumlahnya justru semakin banyak. Mereka ada yang terus frustasi dan makin lama makin “hilang” eksistensinya menyisakan kepahitan atau dendam. Ada juga yang akhirnya berhasil menjadi generasi “IDAMAN”. Semua komik, anime, dan film Jepang banyak sekali mengangkat setting ini dengan baik. Mereka juga dengan baik sekali mencoba memotivasi mereka-mereka yang terconsider “CACAT” atau dipandang sebelah mata menjadi kaum “terpandang”.
Kenapa pembahasan ini saya liat sedemikian pentingnya?
Selain saya mengajak ANDA untuk goggling kata “cosplay di indo” atau “animeclub di indo”, dimana Anda bisa meliat seperti apa kebeneran pembahasan saya ini. Anda juga bisa klik ke berbagai website, misalnya ke www.animeindo.com
Kita melihat kondisi anak-anak zaman sekarang.
Pembagian antara “BERPRESTASI” atau berharga bagi dunia dan “TIDAK BERPRESTASI” atau sampah/produk cacat bagi dunia dimulai justru di sekolah.
Kita melihat kurikulum sekolah dan guru yang berusaha memilah antara keduanya. Yang “berprestasi” semakin di-nurture. Yang cacat semakin dibuang, dianggap anak badung, anak bodoh, atau tidak dianggap ada sama sekali –> datang atau tidak datang ke sekolah, ga efek. Guru les pelajaran yang juga memperlakukan hal yang sama. Yang super bodoh dan yang masi ada harapan.
Yang terjadi kemudian adalah komunitas-komunitas yang terbentuk karena “senasib” atau suka hal yang sama. Misalnya, komunitas-komunitas gamers, card gamers, komunitas-komunitas hang-out, basket, beladiri, komunitas nonton, jalan-jalan, dsbnya. Sayangnya, masih juga ada yang ga diterima juga dalam komunitas: ibarat kata sudah “CACAT” dalam pelajaran, tidak bisa olahraga, tidak bisa main game, tidak suka hang-out, tidak ngerti fashion, dan hal-hal pemersatu lainnya dalam satu komunitas anak-anak sekolah. Jadilah, banyak pelajar-pelajar yang seakan hidup dalam dunianya sendiri. Mereka merasa tidak berharga, tidak ada gunanya hidup, lebih baik mati, dsbnya.
Di rumah, semakin parah karena menghadapi orang tua yang super sibuk dalam bekerja, atau orang tua yang tidak rukun dan bahkan sudah bercerai. Kakak atau adik yang reseh. Dan, kondisi keuangan yang menuntut mereka tidak bisa seperti temen-teman lain alias dengan kata lain tidak bisa masuk dalam komunitas tsb di atas.
Saya amati di Singapore hal ini terliat jelas sekali ya. Di Indo, mungkin belum terlalu terlihat ya. Orang tua yang super sibuk bekerja dan begitu stress nya menghadapi hidup yang sulit membuat banyak remaja menjadi “frustasi” dan tidak “tercontrol”. Kita tau bersama seperti apa kurikulum sekolah di Singapore. Begitu terlihat bila kita gagal dalam fondasi pelajaran, hal itu akan terbawa terus hingga kita selesai sekolah. Artinya, sekali jadi “product CACAT” selamanya demikian.
Buat mereka yang tidak pintar, mereka mencoba berekspresi dalam hal-hal lain seperti olahraga, game, dan komik/anime Jepang. Kita banyak meliat anak-anak yang tidak peduli dengan sekitarnya saat bermain game di mana-mana. Anak-anak yang lari dari orangtuanya banyak sekali terlihat dalam brosur-brosur “anak hilang” yang dibagikan sang orang tua. Jangan tanya mengenai cara berpacaran/seks mereka. Kasihan sekali ya.
Bukannya tidak dilakukan perubahan ya.
Dunia sudah mulai memperhatikan kecenderungan ini dan mencoba membantu kekuatiran para orang tua yang sudah sibuk bekerja banting tulang dan tidak mengharapkan anaknya seperti demikian. Apa buktinya? HOME-SCHOOLING. Tepat sekali. Tapi, kembali ini tidak membantu seratus persen. Yang terjadi justru tidak baik bagi kondisi sosial sang anak. Sang Anak tidak terekspos dalam dunia sesungguhnya. Menjadi kuat dan hebat dalam anggapan/persepsi si orang tua/ibu atau si anak. Tidak/belum terbukti dalam dunia nyata. Bisa jadi, malah begitu masuk dunia nyata kelak bila dewasa, ia menjadi frustasi dan liar.
Mari kita membahas mengenai komik/anime Jepang.
Sekali lagi saya tidak anti-komik atau anime Jepang. Justru saya coba melihat setting dan nilai moral komik/anime yang akhirnya bakal menjadi fondasi dasar psikologis generasi muda masa depan!
Saya akan coba angkat beberapa contoh yang terdapat dalamnya. Beberapa manga atau anime ini mungkin belum pernah kita nonton atau baca, bisa juga tidak popular, tapi karena saya anggap cukup mewakili, akan saya ulas.
Kita coba liat dari komik atau film jaman dulu ya, dan bagaimana justru tetap relevan dalam dunia sekarang ini.
Dalam ulasan sebelumnya, saya menampilkan secara ringkas mengenai pengaruh dari komik dan film GLASS MASK atau Topeng Kaca dalam judul komik di Indonesia. Di dalam GLASS MASK, digambarkan Maya adalah seorang yang “tidak diterima oleh masyarakat”. Dengan baik sekali diulas kontradiktif dari seorang Maya dan lingkungan artis. Artis seharusnya seperti Ayumi. Cantik, bentuk tubuh indah, tubuh terawat baik, pakaian elegan dan mewah, egosentris, knowledgable, ambisius, dan kaya raya dari keluarga berada dan terkenal. Lain halnya dengan Maya. Keluarga miskin tanpa ayah, ibu yang menolak dia dan cita-citanya tapi kemudian sakit-sakitan, tidak cantik, tidak seksi, tidak terawat, sederhana, lugu, tidak ambisius tapi idealis dan sepenuh hati dalam cita-cita hidupnya, sering jatuh bangun dalam menggapai cita-citanya, bodoh dan sering terperdaya, dan tidak kaya sama sekali. Cerita-nya memang belum habis, tapi terlihat betapa si komikus berusaha mengatakan: FIGHT for your unlucky fate.
Ozamu Tezuka, sang bapak dan God of anime Jepang, banyak menggambarkan orang-orang yang tidak “sempurna” dan tidak diterima oleh masyarakat, namun kemudian menjadi pahlawan. Mulai dari cerita Astro Boy hingga Black Jack.
Astro adalah robot masa depan yang justru bertarung melawan robot dan penemu robot yang jahat. Kita sering melihat dalam banyak episode betapa Astro harus bertarung dengan robot yang besar. Seakan pertarungan antara anak kecil dan orang dewasa. Dalam hampir semua episode, kita juga bisa melihat bagaimana sebetulnya Astro tidak selalu diterima oleh manusia/anak-anak yang dibelanya dan Astro juga kadang dibenci oleh robot-robot yang bingung kenapa Astro membela manusia.
Black Jack juga digambarkan demikian. Seseorang yang sesungguhnya cacat (dengan jahitan di wajahnya dan separuh rambut yang putih semua. Ia adalah unregistered doctor yang tidak diterima oleh kalangan dokter di Jepang. Dia tidak punya tempat praktek dan tidak bekerja dengan rumah sakit atau klinik manapun. Dengan kejeniusannya, dia justru selalu berhasil menyelamatkan semua pasiennya.
Bila dalam tahun-tahun dulu pesan moral untuk mengubah status “cacat” tidak terlihat jelas, dalam beberapa komik ataupun anime terbitan terakhir, pesan moral ini justru semakin terlihat. Dan, justru setting yang diambil adalah kehidupan atau karir yang tidak dihormati atau dipandang sebelah mata oleh masyarakat atau at least Orang Tua.
Ippo adalah contoh yang paling baik. Ia digambarkan sebagai anak yang seringkali dilecehkan oleh anak genk sekolahnya. Iya terlihat begitu cengeng, minder, dan lemah. Transformasi perlahan-lahan terjadi saat ia mulai diperkenalkan dengan dunia tinju. Ia akhirnya dikenal sebagai juara tinju yang justru seringkali babakbelur dulu di ronde-ronde awal dan menang di saat-saat terakhir dengan pukulan mautnya. Ia pun diterima oleh masyarakat sekitarnya. Aneh bukan? Di Jepang, karir petinju tidak begitu dihormati bukan? Dibandingkan karir terkait dengan teknologi, informasi, dan bisnis.
Contoh kedua yang juga termasuk paling baik adalah Eye-Shield 21. Tokoh Eye-Shield 21 ini adalah seorang yang mirip dengan Ippo, yang suka di-bully oleh genk sekolahnya. Anak yang lemah yang bahkan selalu diprotect oleh seorang senior perempuan seperti kakaknya sendiri. Anak yang kurus ceking dan pendek. Tetapi begitu diperkenalkan dengan dunia American Football, dengan helm menutupi wajahnya dan kostum 21, ia menjadi begitu dipuja dan ditakuti di lapangan football. Banyak sekali orang-orang tidak sempurna yang digambarkan di sini. Seorang gemuk luar biasa yang jago bertahan karena memang bobotnya tubuhnya, atau si kecil yang juga ahli bertahan namun gagap bicara. Si 3 gengster yang semula sampah masyarakat. Si kurus lemah yang tidak bisa bermain tapi tetap dipertahankan karena ahli strategi. Si buruk rupa ahli catcher bola.
Contoh ketiga adalah Dragon Voice. Seorang penyanyi pria yang justru awalnya bersuara serek dan jelek sekali. Digambarkan seperti suara kodok. Dan ternyata menjelma menjadi sebuah suara yang “seksi” (hm…I dont know how). Padahal, awalnya ia hanya seorang penari jalanan piatu yang ayahnya sibuk berkarir di luar negeri. Dia sama sekali tidak punya teman selain teman kerjanya. Seorang yang ditolak oleh masyarakat dan sibuk menari di jalanan demi sebuah coin yang dilemparkan pelanggan. Kata trigger nya yang paling indah adalah “DO YOU WANT TO MAKE A DIFFERENCE? RATHER THAN JUST DREAMING“
Contoh keempat adalah Harlem Beat. Cerita tentang seorang remaja yang selalu “tanggung-tanggung” dalam mengejar cita-citanya. Hampir semua pernah ia coba. Mulai dari atletik, baseball, dan berbagai jenis olahraga lainnya, bahkan musik. Tapi, ia selalu menjadi pemain di balik layar. Tidak pernah berprestasi. Dan celakanya, setiap kali ia mencoba berlatih menjadi jago, ia selalu mundur bila menghadapi latihan yang berat. Sampai akhirnya ia berhasil menang dalam satu pertandingan basket dengan jago no.1 basket jalanan yang ternyata juga kapten basket di sekolahnya, Shu. Dari titik itulah, ia mencoba untuk tidak mundur sesusah apapun dalam membentuk timnya dan hingga menang dalam kejuaraan tim antar sekolah. Ia akhirnya menjadi orang yang diperhitungkan dalam basket.
Contoh kelima adalah SLAM DUNK. Cerita tentang si bodoh konyol ge-er yang lama-lama bertransformasi menjadi pebasket handal. Ia yang semula dianggap sampah masyarakat justru menjadi pujaan.
Contoh keenam adalah Solty Rei yang tokoh utamanya adalah seorang Android sempurna dan seorang dewasa yang tanpa sengaja ditolongnya yang kemudian mengadaptasinya menjadi “anak”. Dalam film ini digambarkan ada 2 jenis masyarakat, yakni registered dan unregistered. Yang pertama hidup layaknya kita sekarang. Yang terakhir, hidup dalam tempat yang kumuh, kotor, miskin, tidak terawat, dan tidak diperdulikan orang. Sang ayah digambarkan seorang yang dingin sementara Solty Rei digambarkan sebagai Android yang haus kasih sayang. Banyak scene menceritakan hal ini seakan mendeskripsikan dunia real, dimana seperti contoh di Singapore. Orang tuanya kerja sampai malam, sudah pusink dengan kantor dan biaya hidup, tidak terlalu peduli dengan kondisi anaknya.
Contoh ketujuh adalah Yuyu Hakusho. Digambarkan sebagai sampah masyarakat, jago berantem di sekolah. Ditakuti oleh semua genk sekolah-sekolah di lingkungannya. Justru ternyata baik hati dan “mati” demi menyelamatkan seorang anak kecil. “Kematiannya” dengan jelas menggambarkan seperti apa tanggapan dari guru-guru dan teman-temannya. Mereka justru “nyukurin” atau “berterima kasih” krn 1 sampah masyarakat meninggal. Mereka merasa layak dia “mati”. Kemudian, ternyata ia mendapat kesempatan kedua untuk hidup kembali dan direkrut sebagai detektif akhirat untuk menangkap/membunuh monster-monster yang jahat.
Contoh kedelapan tidak lain tidak bukan Detective Conan. Digambarkan sebagai seorang remaja jenius yang jago memecahkan kejahatan berencana mengalahkan orang dewasa yang digambarkan bodoh, konyol, dan sebetulnya tidak ngerti apa-apa. Ia terpaksa bertransformasi menjadi seorang anak kecil (TK/SD saya lupa). Luar biasa bukan cara penggambaran pesan aslinya: anak kecil yang pintar dan orang dewasa/tua yang bodoh. Yang sejenis dengan ini adalah Detective Kindaichi yang digambarkan sebagai seorang pelajar yang bodoh dan malas belajar tapi ternyata jenius memecahkan banyak masalah.
Saya rasa hal yang dilakukan oleh komikus Jepang justru juga berasal dari kekuatiran yang sama seperti saya. Akan seperti apakah generasi-generasi muda masa depan nantinya?
Apakah akan menjadi generasi “CACAT” yang terus menerus meratapi dirinya atau bahkan bikin onar. Atau, malah berubah menjadi seseorang yang berguna dengan diferensiasi dirinya.
Mungkin ekstrimitas ataupun kegelisahan dan pemberontakan generasi muda itu lebih mudah terlihat dalam 2 contoh anime berikut ini:
Yang pertama adalah Code Geass. Tokohnya digambarkan adalah seorang remaja pelajar pelarian padahal aslinya adalah seorang berdarah ningrat. Keluarganya dibunuh oleh pemerintah sekarang dikarenakan berdarah campuran Jepang. Digambarkan kondisi saat itu adalah pemerintah mendiskriminasi bahkan membunuh keturunan berdarah tertentu. Cerita kemudian menjadi seru setelah sang tokoh mendapatkan “ilmu” hipnotis dari seorang alien wanita. Ia menjelma menjadi ZERO seorang pahlawan bagi keturunan tertentu dan masyarakat terpinggir. Artinya, ia menjadi musuh pemerintah.
Yang kedua yang lebih populer adalah DEATH NOTE. Diceritakan, seorang pelajar jenius anak seorang kepala polisi yang bosen dengan kehidupan sekolahnya dan kehidupan sehari-harinya. Ia mendapatkan sebuah buku DEATH NOTE dari seorang SETAN, yang bila ia menuliskan nama siapapun di dalamnya nasib orang tsb bisa diatur hingga ia mati dengan cara tertulis di dalamnya. Musuhnya adalah seorang aneh bernama “L” yang juga masi seumur dirinya, yang akhirnya meninggal demi “membunuh” tokoh kita tsb.
Apakah pengaruhnya terhadap dunia marketing?
Saya rasa kita bisa tarik pembahasan saya ini sebagai insight cara approach generasi masa depan ini.
Lain waktu saya akan cerita dari sudut pandang film-film drama Jepang yang juga menggambarkan kondisi masyarakat masa depan dan pesan moral di dalamnya.
MST
1 Komentar

Setuju mas, komik-komik jepang memang punya pesan moral yang bagus sekali. Saya pun suka sekali dengan Harlem Beat dan Dragon Voice, ceritanya bikin semangat. Keren deh…