Evolution of STP

Evolution of STP based on community!

 

Kita mengenal marketing pertama kali dengan istilah STP (segmenting, targeting, and positioning).

 

STP dalam pelaksanaannya tidaklah mudah. SULIT sekali.

 

Segmenting saja sudah ribet. Berdasarkan demografi, psikografi, behavior?

 

Targeting dan positioning juga bukannya mudah. Wong customers adalah pribadi yang unik. Behavior-nya berubah-ubah dan diubah-ubah oleh brand.

 

Akarnya memang dari penentuan segmenting dan profiling suatu masyarakat yg sedemikian kompleksnya.

- Mau dibuat berdasarkan demografi? yg mana basisnya? living atau working place? living di Serpong, working place di Pulo Gadung.

- Umur? kita kan suka sekat-sekat umur tuh kalo buat riset. Skrg apa bedanya remaja 17 thn dengan remaja 15 thn? Bisa dijamin sama perilaku-nya?  Gimana dengan etnis? Lah wong sekarang banyak yg ude kawin campur? Belom lagi yg sudah terpengaruh budaya asing dari lingkungan sekitarnya.

- Skrg mo berdasarkan behavior deh. Nah, lebih ruwet lagi. Wong waktu saya lagi bad mood dengan pas lagi senang ga sama kok perilaku saya. Sy bisa easy going pas lagi senang, tapi buset “reseh”nya pada saat lagi “bad mood”. Sy bisa beli barang “x” tanpa liat harga kalo lagi terburu2, sementara di lain waktu mikir 2x.

 

Sekarang ini adalah community semakin kuat pengaruhnya, walaupun sebetulnya ini bukan isu baru. 

Sejak lahir manusia memang makhluk sosial. Artinya apa? Ya punya komunitas! Contohnya saja saya. Saya punya komunitas sendiri. Temen-temen gaul saya. Temen-temen partner bisnis. Keberadaan saya mempengaruhi mereka dan keberadaan setiap individu dalam komunitas saya juga mempengaruhi saya. Katakan saja ini adalah Informal Social Community yang sifatnya masih tertutup dalam lingkungan sendiri.

Saya punya komunitas marketing club. Bersama marketing-club, kita belajar bersama dan tidak jarang kita memberikan masukan kepada banyak. Hahaha…walaupun belum sih jadi momok atau gudang kritik bagi para marketers. Sudah jadi Formal Community nih yg pengaruhnya mulai meluas kemana2.

 

Sebuah brand pun punya pengguna yang pastinya punya komunitas lho!

Komunitas berdasarkan demografi dan komunitas berdasarkan gaya hidup dan perilaku/hobi tertentu.

Contohnya saja, sebuah produk bernama kartu layanan Halo Corporat…

Bisa dibagi berdasarkan komunitas berdasarkan industri yang tentunya punya karakteristik pelanggan yang hampir sama, komunitas berdasarkan lokasi, komunitas berdasarkan profesi, komunitas berdasarkan hobi tertentu, dsbnya.

 

Contoh lagi, sebuah pengguna Oreo, bisa dibagi berdasarkan komunitas anak-anak penggemar basket, anak-anak penggemar sepak bola, anak-anak doyan game, anak-anak nerd, dsbnya.

 

Contoh lagi, sebuah brand bernama TimeZone di cabang Kelapa Gading, bisa dibagi berdasarkan komunitas anak-anak doyan game individual seperti playstation, sony, dsbnya atau anak-anak doyan game komunitas seperti Ragnarok.

 

Waduh, apa artinya ini?

Benar!

Teori marketing sedang berevolusi berbasis sesuatu yang lebih jelas, dan bukan kompleks seperti sebuah masyarakat umum. Teori STP mulai bergerak dengan basis COMMUNITY.

Maksudnya adalah: dipilih dulu COMMUNITY-nya, baru kemudian dilakukan STP analysis. Lebih mudah ketimbang menggunakan society atau SES ABC yg biasa kita lakukan. Kenapa? karena biasanya COMMUNITY punya kesamaan tertentu. Misalnya ya, COMMUNITY Golf ya artinya dari SES A. Walaupun memang tidak semua sama ya, tapi at least ada karakteristik yg sama. Bisa juga tempat misalnya SLANKERS wilayah Bandung. Bisa juga umur misalnya Club Basket. 

Contoh COMMUNITY activities paling afdol adalah dengan melihat “DJARUM BLACK”:

“menggaet kaum kreatif” yang biasanya mikir sambil ngerokok hehehe…cari inspirasi!

anak-anak gila otomotif:

 

Saya terkejut!

Bakal seperti apa nih, evolusi marketing yg berbasis community ini?

 

Saya juga makin terkejut!

Kenapa?

Ada banyak tukang dompleng…

Bikin event ini bikin event itu…

Dia lupa!

Bicara komunitas, bicara juga sub-komunitas, sub-komunitas, sub-komunitas di dalamnya…

Djarum Black sadar ga siih nih?

Masuk dengan Djarum Black Innovation…dipilah lagi kok bisa masuk ke Auto Innovation…bisa juga ke arah Art?

 

Mas…ini sudah masuk ke sub dan sub komunitas…

Masih ada nafas ga sih untuk terus menerus masuk ke sub dan sub komunitas?

 

Ada yg suka terlupakan dengan perkembangan teori marketing berbasis community ini…

Kang mas, Ajeng…

Marketing juga sedang bergerak ke arah “selected media”. Dulu org gembar gembor marketing bakal masuk ke “one to one” marketing. Tidak melesat sepenuhnya! Yang lebih tepat adalah marketing bakal masuk ke “one to one sub community dalam suatu community induknya”.

 

Apalagi artinya?

Betul sekali! CoC (Cost per Contact) nya makin tinggi aje! Dulu mah hajar bah pake iklan!!!

 

Makanya, balik balik ke STP lagi…jangan pake segmenting aje!

Community sih mungkin ude bener ye! Tapi maju dong ke arah Profiling dan Targeting, serta akhirnya ke Positioning!

Gile aje, terjebak lagi dong! Ngelayanin sub, sub, sub, dan sub community yg sedemikian luasnya! Makin lama makin niece sub community marketing dong! CoC dan P&L nya masuk ga?

 

Tambah lagi ngawurnya para pendompleng itu karena Community cuma dijadikan ajang approach/contact point saja untuk komunikasi! Weleh weleh weleh…! Piye toochhhhh???

 

Hayo! Change the rule of the game!!!

No Comments Yet

Belum ada komentar.

Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal

Tinggalkan komentar

You must be logged in to post a comment.