Diferensiasi buat si “kaki lima”

Mas,

makanan yang saya mo jual itu jenis komoditas. paling-paling cuma rasa yang saya usahain enak atau booth-nya saya buat unik.

Hehehe…

Kang mas, semua juga bisa niru atuh! rasa itu relatif. saya bisa bilang enak, teman saya bilang “ah lebih enak yg itu”, teman lain bilang “bagi gw sama aje ye. ape bedanya?”. semua juga bisa buat booth unik.

LEPAS dari TATANAN yg ADA. Ini kunci sukses makanan mas.

Contohnya: 

- Mulai dari yg di sekitar kita ya. Di dekat rumah saya mas ada yg heboh. PERKEDEL ukuran gede mas, segede bakpao mini.

- Nah bicara mengenai bakpao, persepsi nya apa kalau bakpao? di steam kan? putih pula. Masih inget jaman dulu thn 92-98 gitu kali ya…ada Bakpao Goreng?

- Masi inget Ice Cream Bakar yg 20 tahun lalu begitu populer? Padahal sebenernya yg digoreng adalah “kue” pelapisnya gitu deh. Hm…I tell you one secret. Hahaha…waktu thn 2000 gitu, sy dan salah satu pemilik Ice Cream Bakar yg ngetop dulu di Gajah Mada mau buat ice cream bakar ukuran mini.
 
- Dan pernah denger, martabak mini isi durian atau Roti Unyil. Memangnya kenapa laku? Unik mas, lepas dari tatanan persepsi. 

 

- Kentucky Fried Chicken, McDonald’s semuanya jualan fast food ayam goreng, eh….muncul Chicken Story -
-> Ayam Bakar Fast Food…hehehe ga tau deh sukses ga tuh…terakhir sih masi struggling dengan rasanya ya.
- Domino Pizza di Filipina. Selama ini pizza bulat kan, nah Domino Pizza bentuknya KOTAK mas.    

 

- Selama ini kan kita mikir kalo burger ya roti dengan daging ham gitu kan? Di Singapore, ada yg unik lho. Rice Burger dengan rice ala Japanese. Jadi ada Chicken Teriyaki Burger, Unagi burger, dsbnya. Aduuuuh mas…wueeeeenaknya itu lho. Namanya adalah MOS BURGER.- Burger kan digoreng gitu ya? Saya kan suka tuh baca tabloid “Kuliner”, dan sy pernah baca ada misalnya BURGER BAKAR di Depok. Hehehe…unik kan? 

 

Bahasa kerennya org marketing sih DIFFERENTIATION ya…wkakaka sok inggris pula…

So, sapa bilang makanan kebanyakan ga bisa di-branding? ga perlu diferensiasi?

Detik Surabaya tgl 10 Juli memuat tentang Warung Kaki Lima Cak Mis di Jalan Bintaro Timur Surabaya.

(Red: link bisa sudah di-archive. Semua tulisan dibawah ini dikutip dari Detik.com:)http://surabaya.detik.com/read/2008/07/10/080245/969689/466/darikrisdayantimboknomhinggamelarat

Yg dijual sama aja kayak kaki lima lainnya: nasi bungkus, martabak, sate usus, dsbnya.

Diferensiasinya adalah cara Cak Mis menyebutkan dagangannya.

Mau tau menunya:

  • Larangane Gus Dur (Dideh): Rp 1000/biji
  • Pakan doro (dadar jagung): Rp 750/biji
  • Krisdayanti (sate usus pedas): Rp 750/tusuk
  • Kuping Ndablek (kikil sapi bumbu merah): Rp 1500/biji
  • Kulit Landak (Sate kulit): Rp 750/tusuk
  • Cucak Rowo (sate telur puyuh): Rp 750/tusuk
  • Mbok Nom (Es Sinom): Rp 1500/gelas
  • STW (Es Teh): Rp 1000/gelas
  • Spring Bed (Martabak): Rp 1000/biji
  • Guling (Lumpia): Rp 1000/biji
  • Sembako (Nasi bungkus): Rp 3000/bungkus
  • Melarat (Ote-ote): Rp 750/biji
  • Lumpur Lapindo (Kue lumpur): Rp 1500/biji

Ada-ada aja alasannya, misalnya sate usus disebut “Krisdayanti” karena dulu KD rambutnya meliuk-liuk. Sedangkan, Ote-Ote dalam bahasa jawa artinya tidak pake baju, maka beliau ganti menjadi “Melarat”.

Air cuci tangannya disebut: Kolam Renang. Piring disebut lapangan, dan Garpu disebut sekrop.

Siapa pembelinya?

Mulai dari tukang becak, mahasiswa, profesional, sampai dengan pengusaha.

Dimana makannya? lesehan di tikar ataupun terpaksa makan di “becak” atau di “mobil”.

Kalau mau jajal, jangan malam hari. Sembako-nya sudah habis.

Hehehe…akhir kata, sapa bilang dagangan kaki lima tidak bisa di”branding”?

Belum Ada Tanggapan

Belum ada komentar.

Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal

Tinggalkan komentar

You must be logged in to post a comment.