Mas,
makanan yang saya mo jual itu jenis komoditas. paling-paling cuma rasa yang saya usahain enak atau booth-nya saya buat unik.
Hehehe…
Kang mas, semua juga bisa niru atuh! rasa itu relatif. saya bisa bilang enak, teman saya bilang “ah lebih enak yg itu”, teman lain bilang “bagi gw sama aje ye. ape bedanya?”. semua juga bisa buat booth unik.
LEPAS dari TATANAN yg ADA. Ini kunci sukses makanan mas.
Contohnya:
- Mulai dari yg di sekitar kita ya. Di dekat rumah saya mas ada yg heboh. PERKEDEL ukuran gede mas, segede bakpao mini.
- Nah bicara mengenai bakpao, persepsi nya apa kalau bakpao? di steam kan? putih pula. Masih inget jaman dulu thn 92-98 gitu kali ya…ada Bakpao Goreng?
So, sapa bilang makanan kebanyakan ga bisa di-branding? ga perlu diferensiasi?
Detik Surabaya tgl 10 Juli memuat tentang Warung Kaki Lima Cak Mis di Jalan Bintaro Timur Surabaya.
(Red: link bisa sudah di-archive. Semua tulisan dibawah ini dikutip dari Detik.com:)http://surabaya.detik.com/read/2008/07/10/080245/969689/466/darikrisdayantimboknomhinggamelarat
Yg dijual sama aja kayak kaki lima lainnya: nasi bungkus, martabak, sate usus, dsbnya.
Diferensiasinya adalah cara Cak Mis menyebutkan dagangannya.
Mau tau menunya:
- Larangane Gus Dur (Dideh): Rp 1000/biji
- Pakan doro (dadar jagung): Rp 750/biji
- Krisdayanti (sate usus pedas): Rp 750/tusuk
- Kuping Ndablek (kikil sapi bumbu merah): Rp 1500/biji
- Kulit Landak (Sate kulit): Rp 750/tusuk
- Cucak Rowo (sate telur puyuh): Rp 750/tusuk
- Mbok Nom (Es Sinom): Rp 1500/gelas
- STW (Es Teh): Rp 1000/gelas
- Spring Bed (Martabak): Rp 1000/biji
- Guling (Lumpia): Rp 1000/biji
- Sembako (Nasi bungkus): Rp 3000/bungkus
- Melarat (Ote-ote): Rp 750/biji
- Lumpur Lapindo (Kue lumpur): Rp 1500/biji
Ada-ada aja alasannya, misalnya sate usus disebut “Krisdayanti” karena dulu KD rambutnya meliuk-liuk. Sedangkan, Ote-Ote dalam bahasa jawa artinya tidak pake baju, maka beliau ganti menjadi “Melarat”.
Air cuci tangannya disebut: Kolam Renang. Piring disebut lapangan, dan Garpu disebut sekrop.
Siapa pembelinya?
Mulai dari tukang becak, mahasiswa, profesional, sampai dengan pengusaha.
Dimana makannya? lesehan di tikar ataupun terpaksa makan di “becak” atau di “mobil”.
Kalau mau jajal, jangan malam hari. Sembako-nya sudah habis.
Hehehe…akhir kata, sapa bilang dagangan kaki lima tidak bisa di”branding”?
Belum Ada Tanggapan
Belum ada komentar.
